Hikmah
Menebar Kasih Sayang
Kamis 14 Maret 2019      Hikmah
Menebar Kasih Sayang

Rasulullah SAW bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ؛ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah siapa yang ada di atas muka bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh siapa yang ada di langit”. (HR. Tirmidzi).

Islam adalah agama yang mengajarkan kasih sayang. Mewujudkan kasih sayang pada diri sendiri, serta memberikan kasih sayang kepada siapa dan apa yang ada disekeliling kita adalah ibadah. Dan itulah bagian dari sifat dan jati diri orang muslim.

Sifat saling menyayangi adalah sifat yang terpuji yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karenanya Allah SWT akan memberikan pahala atas setiap kasih sayang yang diberikan oleh seorang Muslim kepada makhluk yang lain baik itu kepada kerabatnya maupun kepada yang bukan kerabatnya, bahkan kasih sayang yang diberikan oleh seseorang kepada binatang dan tumbuhan sekalipun.

Rasa kasih sayang seharusnya timbul kapan saja dan tanpa harus seremonial tertentu pada waktu tertentu saja. Kasih sayang merupakan wujud rasa persaudaraan yang mengikat hati antara setiap makhluk Allah. Hubungan persaudaraan tidak sebatas pada hubungan darah atau keturunan saja, tetapi lebih pada aqidah atau keyakinan sebagai sesama makhluk ciptaan Allah. Jika kesadaran ini yang melandasi etika saling berkasih sayang setiap orang di bumi Allah ini, niscaya tidak akan terdengar kasus kejahatan seperti pemerkosaan, pembunuhan, korupsi dan perilaku kezaliman lainnya. Karena rasa kasih sayang yang ikhlas dan diaplikasikan sesuai kaidahnya akan memberikan energi positif bagi diri dan lingkungan sekitar.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah. Seorang dari sahabatnya bertanya, “Siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka.” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang saling saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita.” (HR. An-Nasai dan Ibnu Hibban).

Hadits ini secara jelas memberikan perintah untuk saling berkasih sayang antara sesama manusia tanpa embel-embel apapun. Karena balasan bagi mereka yang menumbuhkan akhlak saling berkasih sayang tidak sebatas kehidupan di dunia saja, tetapi hingga kelak di akhirat. Sangat lucu bila kemudian ada remaja atau mereka yang kasmaran mensyaratkan rasa cintanya dengan harus rela menjadi budak nafsunya. Mungkin kepuasaan mereka dapat rasakan saat itu, tetapi semua itu hanya bersifat sementara dan dampak negatifnya lebih besar.

Islam sangat memahami cinta. Karena itu Islam menganjurkan pernikahan. Bahkan hingga level  emergency atau wajib bagi yang sudah mampu. Itu adalah fitrah dan Islam tidaklah bertentangan dengan fitrah manusia. Ia bukanlah ajaran yang mengharamkan cinta dalam bingkai pernikahan seperti kependetaan dalam kekristenan.

Allah menurunkan ke dunia ini hanya satu rahmat saja. Dengan satu rahmat itulah makhluk saling berkasih sayang sampai-sampai induk binatang mengangkat kakinya karena takut terinjak anaknya, demikian sebuah hadits dari Bukhari dan Muslim.

Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas kasihan dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (Allah SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang-Nya pada hari kiamat nanti.” (HR. Muslim)

Jika seekor induk binatang saja memahami etika berkasih sayang, maka sepatutnya manusia lebih mampu untuk saling berbagi kasih sayang. Karena manusia tidak hanya dibekali naluri, tetapi juga akal pikiran dan perasaan yang tidak terdapat pada mahkluk Allah lainnya di muka bumi ini.

Penulis : Muammar, Lc. M.H./ LPPI UMP

Berita Terkait

Tidak ada artikel terkait

UMP Terkini